Selasa, 29 Mei 2012

PROPOSAL PENELITIAN KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK CERPEN



PROPOSAL PENELITIAN

KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK CERPEN “MERDEKA” KARYA PUTU WIJAYA
SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 BAUBAU




UNHALU JHI.jpg












Oleh

DARLIS
A2D1 09 168





JURUSAN PENDIDIKAN SASTRA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang dan Masalah

1.1.1 Latar Belakang
Pembelajaran sastra mempunyai peranan penting dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran secara umum. Aspek-aspek yang di maksud adalah aspek pendidikan, social, perasaan, sikap penilaian, dan keagamaan. Unruk mencapai aspek-aspek itu, sudah barang tentu pembelajaran sastra haruslah memperhatikan hal-hal yang terkait dengan pengajaran sastra itu sendiri.
      Standar kompetensi pembelajaran bahasa Indonesia merupakan keualisifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, ketrampilan berbahasa, sikap posotif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi local, regioanal, nasional, dan global. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia secara baik dan benar, serta menumbuhkan apresisasi terhadap hasil karya kesastraan.
      Sunarti (2002: 15) menjelajaskan bahwa tujuan pembelajaran sastra meliputi dua hal, yaitu memperoleh pengalaman sastra dan memperoleh pengetahuan sastra. Tujuan memperoleh pengalaman sastra dapat di capai dengan cara mengalami langsung atau melihat langsung hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan sastra. Misalnya, siswa di libatkan dengan kegiatan pembacaan karya sastra, siswa mendengarkan bacaan hasil karya sastra, dan siswa di suruh menulis karya sastra. Sementara itu, memperoleh pengetahuan tentang sastra dapat di capai dengan cara menerangkan istilah-istilah sastra, bentuk-bentuk sastra, dan sejarah sastra.
      Sejalan dengan tujuan tersebut, pembelajaran sastra mengharapkan peserta didik mampu mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain serta mempunyai kemampuan analik dan imajinatif dalam dirinya untuk menanggapi, mengkristis, dan merespon hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Dengan demikian tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa memiliki pengetahuan tentang sastra., mampu mengapresiasikan sastra, bersikap positif terhadap nilai sastra, karena sastra adalah cerminan kehidupan dan dapat mengembangkan kesusastraan Indonesia.
      Salah satu bentuk karya sastra yang diajarkan pada siswa pada jenjang SMP adalah pembelajaran tentang cerita pendek (Cerpen). Cerpen sebagai prosa yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang pertikaian-pertikaian, peristiwa yang mengharukan, atau menyenagkan, dan mengandung pesan yang tidak dapat dilupakan. Cerpen sebagai cerita rekaan tentunya ditulis oleh pengarang tidak terlepas dari realita yang terjadi di sekeliling pembaca. Realita inilah yang dapat dipelajari oleh siswa dan mengetahui hikmah yang terkandung di dalam cerpen tersebut untuk dijadikan sebagai pedoman hidup. Cerpen dibuat dengan memperhatikan atau mengedepankan arti dan nilai yang cukup penting bagi pembaca.
      Mengingat pentingnya arti, nilai, dan fungsi kemampuan memahami cerita pendek (cerpen), maka sudah sewajarnya pembelajaran sastra di sekolah perlu dibina dan ditingkatkan agar siswa memiliki kemampuan memahami cerpen dengan lebih baik. Hal ini penting dilakukan untuk mengembangkan diri siswa, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun kembali kemasyarakat. Dengan berbekal pengetahuan dan kemampuan memahami karya sastra, khususnya cerpen, siswa dengan mudah menghayati, mengambil manfaat dari peristiwa kehidupan serta semaki arif dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Siswa akan mampu mengomunikasikan isi jiwanya, menghayati hidup dengan kehidupan dengan mengapresiakannya dalam bentuk karya sastra khususnya dalam bentuk cerita pendek (cerpen).
      Dalam kegiatan pembelajaran cerpen, siswa ridak hanya diarahkan untuk memahami teori seperti mengenali cirri-ciri cerpen, unsur instrinsik karya sastra (cerpen), tetapi pembelajaran sastra ini diarahkan untuk bagaimana siswa mampu menemukan unsur instrinsik yang ada terkandung dalam cerpen seperti, alur, latar, sudut pandang, tema, amanat, gaya bahasa, tokoh dan lain-lain. Artinya pembelajaran sastra umumnya, dan cerpen khususnya siswa diharapkan untuk memahami teori dan tindak mengabaikan praktik dan aplikasi (kajian analisis).
      Pembelajaran cerpen sebagai salah satu pembelajaran karya sastrakepada siswa, tidak dapat diabaikan begitu saja, tetapi perlu dipertahankan sejak dini agar siswa memiliki pengetahuan yang luas tentang pemahaman dan penerapan unsur-unsur unstrinsik cerpen, hal ini penting untuk dilakukan agar siswa mempunyai sikap positif terhadap hasil karya sastra berupa cerpen.
      Berdasarkan berdasarkan hasil observasi awal pada salah satu kelas VII SMP Negeri 1 Bau Bau, siswa belum mampu memahami karya sastra secara untuh. Pembelajaran sastra masih kurang, karena guru mengalami kesulitan dalam megajarkan cerpen. Demikian juga teknik pembelajaran masih berpusat pada guru, dalam arti siswa kurang diaktifkan dalam proses belajar mengajar. Selain itu, guru kurang selektif dalam memilih media dalam pembelajaran, khususnya media berupa cerpen yang sesuai dengan kondisi dan situasi siswa. Hal ini yang mendorong penulis tertarik untuk meneliti kemampuan memahami unsur-unsur instrinsik cerpen
1.1.2  Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, masalah dalam pemelitian ini adalah “Bagaimanakah kemapuan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bau Bau dalam memahami unsur instrinsik carpen “Merdeka” karya Putu Wijaya?”
1.2  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.2.1        Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendepkripsikan kwmampuan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bau Bau dalam memahami unsur instrinsik cerpen “Merdeka” karya Putu Wijaya.
1.2.2 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebgai berikut.
1.      Bagi siswa hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu acuan bagi peningkatan prestasi belajar pada aspek kesastraan Khususnya memahami unsur intrinsic karya sastra.
2.      Bagi guru hasil penelitian ini dapat di manfaatkan untuk merancang pembelajaran unsure instrinsik karya sastra khususnya cerpen yang lebih sempurna.
3.      Bagi peneliti lanjutan, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebgai salah satu referensi atau masalah yang releven.

1.3      Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bau Bau dalam memahami unsur instrinsik cerpen “Merdeka” karya Putu Wijaya. Unsur intrinsik yang dimaksud adalah: tema, amanat, tokoh dan karakter tokoh, alur, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.
























BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran Satra di SMP Kelas VII Berdasarkan KTSP
                  Pembinaan apresiasi sastra adalah pembinaan intelektual, sosial, dan emosional siswa. Hal ini penting karena dengan pembinaan dan pembelajaran sastra mampu menghasilkan peserta didik yang mampu mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, setra mempunyai kemampuan analitik dan imajinatif dalam dirinya untuk mengkritisi dan merespon apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Dengan pembinaan Apresiasi sastra siswa mampu mengapresiasikan sastra.
      Pembelajaran apresiasi sastra pada dasarnya adalah suatu proses panjang dalam rangka melatih dan meningkatkan keterampilan siswa. Pembelajaran sastra lebih banyak dikaitkan dengan pengalaman lingkungan siswa sesuai dengan jenjang tingkatan siswa dan pengalaman sehari-hari. Pada siswa diajak bergaul dengan karya sastra agar dapat memahami karya sastra, nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, unsur-unsur intrinsic karya sastra, sehingga siswa dapat menciptakan karya sastra.
      Karya sastra yang baik bias membekali siswa denga sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Karya sastra akan menjadi menarik karena di dalamnya tedapat kenikmatan dan dapat dipahami. Pemahaman inilah yang dituntut dalam pembelajaran sastra. Kalau ingin memahami karya sastra terlebih dahulu ditanamkan ketertarikan terhadap karya sastra tersebut. Hal ini yang perlu dijelaskan dan ditekankan kepada siswa karena pada dasarnya tanpa minat, kita tidak akan dapat menikmati karya sastra yang disediakan.
      Pembelajaran sastra khususnya pembelajaran cerpen di SMP kelas VII berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memuat kompetensi dasar menggapai cara pembacaaan cerpen dengan indikator siswa harus menentukan unsure-unsur dalam cerpen dan siswa dapat menagkat isi, pesan, dan suasana dalamc cerpen (Depdiknas, 2006). Pembelajaran cerpen ini dilakukan dua kali tatap muka atau atau sebanyak 160 menit (4x40 menit). Materi yang di sampaikan pada pertemuan pertama adalah pembelajaran cerpen dengan indicator siswa mampu menentukan unsure-unsur dalam cerpen, sedangkan pembelajaran cerpen dengan indicator siswa dapat menangkap isi, pesan, dan suasana cerpen di sampaikan pada tatap muka kedua. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi di kelas berupa metode ceramah, Tanya jawab, dan inkiri.
      Berdasarkan paparan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan, pengajaran, dan apresiasi sastra dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran sastra agar sastra mampu menjadi sarana yang efektif dan efisien. Mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki pengakuan dan idealism yang tinggi tentang kesusastraan.

2.2 Pengertian Sastra
      Pradotokusumu (2005:1) menjelaskan bahwa untuk mendefinisikan apakah sastra bukanlah hal yang mudah. Hampir semua buku yang mempermasalahkan sastra selalu di mulai dengan pernyataan “apakah sastra itu?” disusul dengan perincian batasan-batasan serta tolak ukurnya. Hal yang paling mudah adalah mencari karangan di dalam kamus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Pradotokusumo, 2005:1) menyebutkan bahwa satra mengandung pengertian sebagai berikut.
1.      Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang di pakai di kitab-kitab ( Bukan bahasa sehari-hari).
2.      Karya sastra, yang jika di bandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai cirri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi, dan pengungkapan, drama, epic, dan lirik.
3.      Kitab suci (hindu) kitab (ilmu pengetahuan).
4.      Pustaka, kitab primbon (berisi ramalan,hitungan,dan sebagainya).
5.      Tulisan atau huruf.
Nursito (2000.1) mengemukalkan bahwa kata “kesusastraan” berasal dari kata “susastra” yang memperoleh konfiks “ke-an” mengandung makna “tentang” atau “hal”. Kata “susastra” terdiri atas kata dasar sastra yang berarti tulisan yang mendapat awalan kehormatan “su” yang berarti baik atau indah. Dengan demikian, secara etimologi, kata “susastra” dapat berarti pembicaraan berbagai tulisan yang indah bentuk dan isinya.
Keindahan bentuk hasil kesusastraan yang kemudian lazim disebut sebagai karya sastra terlihat pada penampilan sosok puisi, prosa, dan drama, baik yang tergolong kesusastraan lama, masa peralihan, sampai kesusastraan modern, bahkan kesusastraan kontemporer pada masa mutakhir.
Dari kedua pendapat yang dikemukakan di atas,dapatlah disimpulkan bahwa karya sastra adalah hasil bentuk ciptaan pengarang yang bersifat indah, juga menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia. Karya sastra bukan sekedar dibaca dan dihayati sebgai pengisi waktu, melainkan di dalamnya mengandung nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan.
2.3 Apresiasi Sastra
      Dalam buku Bahasa  Indonesia Jilid I terbitan pusat bahasa (2003:164) mengemukakan bahwa apresiasi dapat diartikan sebagai usaha pengenalan suatu nilai terhadap nilai yang lebih tinggi. Apresiasi itu merupakan tanggapan seseorang yang sudah matang dan sedang berkembang kea rah penghayatan nilai yang lebih tinggi sehingga ia mampu melihat dan mengenal nilai dengan tetap dan mendampinginya dengan hangat dan simpatik. Seseorang yang memiliki apresiasi tidak sekedar yakin bahwa sesuatu yang dikehendaki menurut perhitungan akalnya. Tetapi menghasratkan sesuatu itu berdasarkan jawaban sikap ya gpenuh kegairahan untuk memilikinya.
Bertolak dari pengertian apresiasi seperti yang dikemukakan di atas, apresiasi sastra dapat diartikan sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra yang dapat menimbulkan kegairahan terhadap sastra itu, serta menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu.
Dalam mengapresiasikan sastra, seseorang akan mengalami sebagian kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam karya ciptanya. Hal ini dapat terjadi karena daya empati yang memungkinkan pembaca kedalam suasana dan gerak hati dalam karya itu. Kemampuan menghayati pengalaman pengarang yang dilukiskan dalam karyanya dapat menimbulkan rasa nikmat pada pembaca. Kenikmatan itu timbul karena pembaca (1) merasa mampu mengalami pengalaman orang lain; (2) merasa pengalamannya bertambah hingga dapat menghadapi kehidupan dengan baik-baik; (3) merasa kagum akan kemampuan sastrawan dalam memberikan, memadukan dan memperrjelas makna terhadap pengalaman yang diolahnya; dan (4) mampu mengemukakan nilai-nilai estetik dalam karya itu.
2.4 Pengertian Cerpen
Pengertian cerpen didasarkan pada simpulan beberapa hasil bacaan. Sehingga dalam pengertian cerpen ini tidak di sebutkan hali yang mengemukakaka pendapatnya, berdasarkan hasil bacaan penulis menyimpulkan bahwa cerpen adalah prosa yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kisah yang tidak mudah dilipakan. Cerpen adalah cerita fiksi yang menggambarkan peristiwa yang dialami oleh seorang tokoh namun tidak memungkinkan terjadinya nasib sang tokoh. Cerpen memiliki cirri-ciri sebagai berikut.
1.      Cerita berbentuk fiksi.
2.      Ceritanya singkat dan padat.
3.      Ceritanya terpusat pada satu peristiwa/konflik.
4.      Jumlah dan pengembangan pelaku terbatas.
5.      Keseluruan cerita memberikan satu efek/kesan tunggal.
2.5 Unsur Intrinsik Cerpen
Cerpen adalah salah satu karya rekaan (fiksi), merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa unsur. Unsur-unsur ini saling berkaitan, tidak terpisashkan satu sama lain, dan bersama-samamembentuk cerita Rusyana (1982:65).
Unsur intrinsic adalah isi dari sebuah karya sastra yang berkaitan dengan kenyataan-kenyataan di luar karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra itu hadir (Nurgiyantoro 1998: 23). Unsure intrinsik dari tema, amanah, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.  Bagian-bagian tersebut saling berkaitan karena merupakan satu rangkaian struktur yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Untuk menambah pemahaman tentang unsur intrinsic yang membangun cerpen berrikut uraian penjelasannya..
2.5.1 Tema
Sebuah cerita yang baik tentu mempunyai tema. Menurut Zulfahnur (dalam Wahid 2004 : 74) bahwa tema adalah ide yang mendasari karya sastra. Tema merupakan salah satu dimensional yang amat penting dalam suatu cerita, karena dasar itu, pengarang dapat membayangkan dalam fantasinya tentang cerita yang akan dibuat. 
Hendy (1991 : 31) menjelaskan bahwa tema adalah pokok pengisahan dalam sebuah cerita. Cerita atau karya sastra yang bermutu tidak lain karya sastra yang bermutu baik, yaitu mampuh menggugah pandangan dan perilaku negative menjadi positif.
Nurgiantoro (2005 : 80) mejelaskan bahwa tema adalah sebuah cerita dapat dipahami sebagai sebuah makna. Maknah yang mengikat keseluruan unsur cerita sehingga itu hadir sebagai sebuah kesatuan yang padu. Berbagai unsure fiksi seperti alur, tokoh sudut pandang, latar dan sebgainya berkaitan secara sinergis untuk bersama-sama mendukung eksitensi tema. Dalam sebuah cerita tema jarang di ungkap secara eksplisit, tetapi menjiwai keseluruhan cerita. Adakalanya, memang dapat ditemukan sebuah kalimat, alinea dan kata-kata dialog yang mencerrminkan tema keseluruhan. Jadi, walaupun eksistensi tema ini dalam sebuah ceritatidak diragukan, dan pada umumnya dapat dirasakan, substansi kebenarannya harus ditemukan lewat pembacaan dan pemahaman yang kritis.
Dari beberapa pengertian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa tema dalam sebuah cerita adalah ide sentral yang mendasari suatu cerita, merupakan gagasan dasar umum yang menopang karya sastra. Tema menjadi dasar pengembangan sebuah cerita dan ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Oleh karena itu, untuk menentukan sebuah tema karya sastra. Haruslah disimpulkan dari seluruh cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu. Tema sebgai makna pokok sebuah karya fiksi tidak secara sengaja disembunyikan karena justru hal inilah yang ditawarkan kepada pembaca. Sehingga kehadiran tema terimplisit dan memasuki keseluruan cerita, dan hal itu pulalah antara lain yang menyebabkan tidak mudahnya penafsiran tema. Penafsiran tema depersyarati oleh pemahaman cerita secara keseluruan.
2.5.2 Amanat
Berbicara tentang amanat cerita berarti pembaca diperhadapkan dengan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca lewat cerita yang ditampilkan. Amanat cerita biasanaya berisi ajaran moral dan nilai-nilai kemanusian. Amanat pengarang ini terdapat secara implisit dan eksplisit didalam karya sastra. Implisit misalnya disiratkan melalui tingkah laku tokoh-tokoh ceritanya. Eksplisit, bias di dalam, di tengah, dan di akhir cerita pengarang menyampaikan pesan, saran, nasihat, dan pemikiran.
Dari paparan yang di kemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa amanat cerita adalah pesan yang disampaikan oleh pengarang dalam sebuah cerita yang berisikan ajaran  moral dan ajaran-ajaran kemanusiaan.
2.5.3 Tokoh dan Penokohan
Tokoh merupakan unsur cerita yang sangat penting, sebab tidak ada cerita tanpa kehadiran tokoh. Tokoh-tokoh dalam cerita berrsifat unik, tokoh yang satu selalu berbeda dengan yang lainnya. Tokoh inilah yang mengalami peristiwa dalam cerita.
Dalam buku praktis Bahasa Indonesia Jilid I terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2003 : 142) disebutkan bahwa tokoh (character) dalah orang yamg memainkan peran tertentu dalam cerita. Dalam prosa, tokoh, adalah orang yang menjadi pemeran yang menjalankan alur cerita.
Dalam pemahaman yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan tokoh dalam suatu cerita adalah mereka yang memainkan peran atau yang mengalami peristiwa dalam sebuah cerita. Tokoh merupakan unsure yang paling urgen dalam sebuah cerita karena tanpa kehadiran tokoh, cerita menjadi tidak hidup.
Nurgiantoro (2005 : 74) mengemukakan bahwa istilah tokoh dapat menunjuk pada tokoh dan perwatakan tokoh. Tokoh adalah pelaku cerita lewat berbagai aksi tokoh lain yang ditimpahkan kepadanya. Dalam cerita tokoh bias berupa manusia, binatang atau makhluk atau objek lain seperti makhluk lain (peri, hantu ) dan tumbuhan.
Tokoh cerita hadir di hadapan pembaca membawa kualifikasi tertentu terutama yang menyangkut jatidiri. Adanya identitas jatidiri itulah yang menyebatkan tokoh satu dengan yang lain. Menurut lukens (dalam Nurgiantoro, 2005 : 75) tokoh itu sendiri dapat dipahami sebgai seseorang atau sosok yang memiliki sejumlah kualifikasi mental dan fisik yang membedakan dengan sosok atau orang lain.
Liverty (Tarigan, 1984 : 141) mengemukakan bahwa penokohan atau karakteristik adalah  proses yang di pergunakan oleh seseorang pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh fisiknya. Tokoh fisik harus dilihat sebagai yang berbeda pada suatu masa dan tempat dan haruslah pula diberi motif-motif yang masuk akal bagi segala sesuatu yang dilakukannya. Tugas pengarang ialah membut tokoh-tokoh itu sebaik mungkin, seperti benar-benar ada. Cara untuk mencapai tujuan itu tentu berabeka ragam, termasuk pemerian atau analisis. Apa yang dikatakan atau yang dilakukan oleh para tokoh, cara mereka beraksi dalam siuasi-situasi tertentu, apa yang dikatakakan oleh tokoh lain atau bgaimana mereka beraksi terhadapnya.
Secara garis besar perwatakan tokoh atau penokohan dapat diungkap lewat dua macam cara: (1) cara langsung (ekspositorik) yakni cara lansung atau uraian (telling) , mengungkapkan karakter tokoh secara langsung dan diuraikan oleh pengarang. Pengarang secara jelas menguraikan atau mendepskripsikan watak tokoh dan (2) cara tidak langsung (dramatik) yakni mengungkapkan karakter tokoh-tokoh  secara tidak langsung lewat alur cerita. Jadi car ini watak tidak diuraikan dan didepskripsikan secara serta merta begitu saja, melainkan diungkap secara terselubung lewat cerita (Nurgiantoro, 2005 : 79).
Senada dengan hal tersebut, wahid (2004 : 77) menjelakan bahwa ada beberapa cara yang digunakan untuk memahami watak pelaku atau pribadi tokoh cerita, yaitu:
a.       Tuturan pengarang terhadap karakteristik perilakunya.
b.      Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun cara berpakaiannya.
c.       Menunjukkan bagaimana perilakunya.
d.      Melihat bagaimana tokoh itu berbicara sendiri.
e.       Memahami bagaimana jalan pikirannya.
f.       Melihat bagaimana tokoh lain berbicara.
2.5.4 Alur Cerita
Dalam buku praktis Bahasa Indonesia Jilid (2003 : 138) menjelaskan bahwa alur dan plot adalah  jalinan peristiwa yang memperlihatkan kepanduan (koherensi) tentunya yang di wujudkan oleh hubugan sebab akibat, tokoh, tema dan ketiganya. Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka oleh pengarang melalui tahapan-tahapan peristiwa yang direka oleh pengarang melalui tahapan-tahapan peristiwa yang saling berhubungan. Secara umum ada lima tahapan alur:
1.      Pengenalan (eksposisi) yakni mengarang perrkenalan tokoh, setting, dan masalah yang dihadapi tokoh.
2.      Timbulnya konflik yakni tokoh mengalami konflik dalam memecahkan masalah.
3.      Konflik memuncak (rumitan) yakni konflik tokoh bertambah rumit dan menajam.
4.      Puncak masalah (klimaks) yakni konflik tokoh mencapai titik puncak.
5.      Pemecahan masalah (konklusi) yakni penerapan akhir sebuah cerita dengan nasib masing-masing tokoh.
Saxby (Nurgiantoro, 2005 : 68) menjelaskan bahwa alur merupakan aspek utama dan utama yang harus dipertimbangkan karena aspek inilah yang menentukan menarik tidaknya cerita dan memiliki kekuatan untuk mengajak pembaca secara total mengikuti cerita. Alur membuar segala sesuatu yang dikidahkan bergerak dan terjadi. Alur menghadirkan cerita, dan cerita itulah yang dicari untuk dinikmati oleh pembaca.
Alur berkaitan dengan masalah, urutan penyajian cerita, tetapi bikan saja hanya masalah yang menjadi persoalan alur. Menurut lukens ( dalam Nurgiantoro, 2005 : 68) alur merupaka urutan kejadian yang memperlihatkan tingkah laku tokoh dalam aksinya. Pembicaraan alur akan melibatkan peristiwa dan aksi yang dilakukan dan ditimpajkan kepada tokoh cerita. Misalnya, peristiwa atai aksi apa saja yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita atau sebaliknya yang ditimpahkan kepada tokoh cerita, baik peristiwa atau aksi yang hebat, menarik, menengangkan, menjengkelkan, menakutkan, mengharukan, maupun untuk kategori yang lain, baik unutk dan oleh tokoh protagonis maupun antagonis.
Menurut Nurgiantoro (2005 : 72) kesederhanaan alur cerita dapat dilihat dari tiga hal:
1.      Masalah dan konflik yang dikisahkan sederhana berkisar pada permasalahan yang masih bias dijangkau pembaca.
2.      Hubungan antara peristiwa harus jelas (misalnya hubungan sebab akibat).
3.      Urutan peristiwa linear dan runtut.
Dari pemaparan yang dikemukakan di atas, dapatlah dipahami bahwa alur cerita adalah rangkaian peristiwa yang direka atau diungkapkan dalam sebuah cerita. Alur tersebut berguna untuk mengharapkan pembaca terhadap jalannya cerita. Semakin jelas alurnya, semakin menarik juga cerita tersebut. Tetapi sebaliknya, ketidakjelasan alur cerita yang diuraikan dan pembaca makin tidak paham dengan apa yang dikisahkan.
2.5.5 Latar Cerita
Latar adalah seegala karangan mengenai waktu , ruang dan suasana yang diceritakan dlam sebuah karya sastra (Hendi, 1991 : 34). Pada dasarnya, setiap karya sastra yang membentuk cerita selalu memiliki latar. Latar adalah situasi tempat, ruang dan waktu terjadinya cerita. Dalam hal ini, penggunaan latar sangat mendukung terciptanya karya sastra dn menarik perhatian para pembaca atau pemikat cerita (sastra). Latar atau setting disebut juga sebgai landas tumpu, mengarahkan pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan social tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Wahid, 2004 : 80) dalam prosa fiksi, biasanya latar dibedakan empat tipe, yaitu latar alam (geographic setting), latar waktu (temporal setting), latar social (social setting) dan latar ruang (spatial setting).
Tarigan (1984 : 136) menyatakan bahwa uraian atau lukisan dalam latar jangan hnya dipandang dari segi pengertian kecocokan yang realitas saja, tetapi harus juga dipandang dari segi pengertian apa yang dapat dipersembahkan sebaik-baiknya bagi suatu cerita.
Latar (setting) dalam sebuah cerita cukup penting. Kepentingan latar atau setting tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Memperjelas bila, di mana, dan bagaimana terjadinya peristiwa yang dikisahkan.
2.      Memperjelas alur dan tokoh ceritanya.
3.      Memperjelas susunan dan peristiwa dalam cerita.
Dengan beberapa paparan yang di kemukakan di atas, dapatlah di pahami bahwa latar atau setting dalam sebuah cerita adalah sesuatu keadaan yang berrhubungan dengan waktu, tempat, dan ruang terjadinya peristiwa.
2.5.6 Sudut Pandang Cerita
Sudut pandang pada dasarnya merupakan strategi, teknik, dan siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan gagasan dan ceritanya untuk menampilkan pandangan hidup dan tafsirnya terhadap kehidupan yang semua ini melalui sudut pandang tokoh.
Menurut wahid (2004 : 38) sudut pandang adalah tempat penceritaan dalam hubungannya dengan cerita, dari aspek sudut mana pencerita menyampaikan kisahnya. Sudut pandang dilihat dati aspek posisi penceritaan. Sudut pandng ada tiga macam yaitu:
1.      Pengarang terlibat (other partipant), pengarang ikut ambil bagian dalam cerita sebagai tokoh utama atu tokoh lama, mengisahkan tentang dirinya. Dalam cerita ini, pengarang menggunakan kata ganti orang pertama (aku atau saya)
2.      Pengarang sebagai pengamat (other obsevant), posisi pengarang sebagai pengamat dan mengisahkan pengamatan di samping sebagi tokoh. Pengarang berada di luar cerita, dan menggunakan kata orang ketiga (ia atau dia) dalam ceritanya.
3.      Pengarang serba tahu (other omniscient), pengarang berada di luar cerita (impersonal), tetapi serna tahu tentang apa yang di rasa dan diperkirakan oleh took cerita. Dalam kisah pengarang memakai nama-nama orang lain dia (orang ketiga).
2.5.7 Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah semacam bahasa yang bermula dari bahasa biasa yang digunakan dalam bahasa tradisional atau literal untuk menjelaskan orang atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa, pemaparan imajinatif menjadi lebih segar dan berrkesan (minderop, 2005 : 51).
Gaya bahasa mencakup arti kata, citra, perumpamaan, serta symbol dan alegori. Arti kata mencakup dari denotasi dan konotasi, sedangkan perumpamaan mencakup simile, metafora dan personifikasi.
a.       Simile yakni perbandingan lansung antara benda-benda yang tidak selalu mirip secara esensial. Perbandingan yang simile, biasanya terdapat kata “seperti” atau “laksana” dan “ketimbang” atau “daripada”.
b.      Metafora yakni gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lainnya secar langsung, yang dalam bahasa inggrisnya disebut to be. Contoh: kehidupan ini binatang lapar.
c.       Personifikasi yaitu suatu psoses penggunaan karakteristik manusia untuk benda-benda non-manusia, temasuk abstraksi atau gagasan. Contoh: “dewi malam berselimut awan”.
Selain itu bahasa yang dikemukakan di atas, tarigan (1984 : 165), mengemukakan bahwa dalam karya sastra ada gaya bahasa lain yang sering kita jumpai. Gaya bahasa tersebut adalah:
a.       Gaya bahasa ironi, yakni jenis gaya bahasa yang mengemukakan suatu hal dengan makna yang berlainan, merupakan suatu kulitas dalam setiap pernyataan atau situasi yang muncul dari kenyataan bahwa yang wajar, yang diharapkan tidak disebut atau dilaksanakan, tetapi diganti dengan kebikannya.
b.      Paradox, yakni gaya bahsa pertentangan, misalnya: Neraka itu adalah surge baginya.
c.       Simbolisme yakni penggunaan lambing-lambang tertentu yang memiliki makna yang mengisaratkan sesuatu untuk mencapai pesan yang ingin di sampaikan.











BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

3.1  Jenis dan Metode Penelitian
3.1.1 Jenis Data
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan. Karena peneliti langsung ke lokasi penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan sesuai dengan masalah penelitian.
3.1.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuatitatif, yaitu menggambarkan secara objektif hasil yang diperoleh siswa dalam memahami unsur intrinsik cerpen “Merdeka” karya Putu Wijaya berdasarkan dengan pengumpulan data, pengkajian data, penyusunan data dalam laporan hasil penelitian.
3.2  Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1        Populasi
Populasi penelitian ini akan dilakukan pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bau Bau Pada tahun ajaran 2011/2012.
3.2.2 Sampel
Teknik yang akan digunakan dalam pengambilan sampel adalah stratified random sampling yaitu mengambilan sampel dengan cara mengurutkan prestasi siswa dari yang terendah  sampai yang tertinggi. Berdasarkan hasil dari populasi.
3.3 Intrumen Penelitian
3.3.1 Bentuk Teks
Tes yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif yang berbentuk pilihan gandayang mengunakan empat alternative jawaban. Hal ini dilakukan agar mendapatkan keluasan materi, keobjektifan penelitian dan kemudahan dalam memperileh data. Instrumen dalam penelitian terdiri dari 20 soal tentang memahami unsur-unsur intrinsic yang ada dalam cerpen. Peneliti akan menyusun instrument tes berdasarkan kurikulum yang berlaku di sekolah tempat penelitian, yakni KTSP.
3.3.2 Ujicoba
Untuk memperoleh mengumpul data yang terperaya, peneliti akan mengumpulkan data instrument ini terlebih dahulu diujicobakan pada sekolah dan kelas yang setingkat dengan responden yang akan diteliti.
3.3.3 Vadilitas Tes
Sesuai tes atau instrument pengukuran dikatakan memiliki vadilitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut menjalan fungsi ukur secara tepat atau memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.
Vadilitas yang akan digunakan untuk menguji instrument penelitian ini adalah vadilitas isi. Analisis vadilitas ini akan dilakukan dengan cara menyesuaikan materi yang dikembangkan dalam instrument penelitian dengan materi unsur intrinsic cerpen yang termuat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Criteria yang digunakan untuk mengetahui vadilitas tes adalah sebagai berikut:
0,80 – 1,00            = sangat tinggi
0,60 – 0,79            = tinggi
0,40 – 0,59            = sedang
0,20 – 019             = rendah
0,00 – 0,19            = sangat rendah
Perhitungan vadilitas tes menggunakan product moment dari Peorson (Ramly 200 : 132).   
3.3.4 Reliabilitas
Rumus yang akan digunakan untuk mengetahui reabilitasi tes yang diujicobakan dalam penelitian ini adalah formula KR 21.
          

Reliabilitas (KR21) = I –
Di mana:
                  K   = Jumlah butir soal dalam teks
                  M   = Maen skor tes
                  SD = SD dari skor tes
                  I    = Bilangan Konstan
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang akan dilakukan untuk pengumpulan data dengan cara member kepada siswa berdasarkan instrument soal yang telah di buat. Tes dilakukan seltelah responden mendapat petunju dari peneliti. Siswa atau responden menyelesaikan keseluruahan butir tes 2 x 40 menit (80 menit).
3.5 Teknik Analis Data
Setelah data diperoleh , selanjutnya dipisahkan jawaban responden bredasarka urutan yang tertinggi sampai yang terendah untuk memudahkan dalam menganalisis. Pengoreksian data dilaksanakan terhadap 20 butir tes tiap-tiap butir tes yang dijawab benar dineri skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. Dan untuk mengetahui tingkat kemampuan memahami unsur intrinsic cerpen “Merdeka” karya Putu Wijaya pada siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bau Bau digunakan rumus membagi perolehan siswa pada setiap komponen dengan skor maksimal per komponen dikali 100%.
3.6  Tempat Pengambilan Data
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Bau Bau, Kel. Wangkanapi, Kec. Wolio, Kab. Buton.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts