Rabu, 06 Juni 2012

MELALUI PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SIFAT-SIFAT CAHAYA DI KELAS V SD NEGERI 2 BORO-BORO KABUPATEN KONAWE SELATAN


MELALUI PENERAPAN METODE EKSPERIMEN
DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATERI POKOK SIFAT-SIFAT CAHAYA
DI KELAS V SD NEGERI 2 BORO-BORO
KABUPATEN KONAWE SELATAN




                                                 

PROPOSAL
FITRIANI
A1B4 08 151


fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
universitas HALUOLEO
kendari
2011


HALAMAN PERSETUJUAN
Telah disetujui dan dipertahankan di hadapan panitia Ujian Skripsi pada Program Studi S1 PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Universitas Haluoleo.

Kendari,  Oktober 2011

Pembimbing I                                                                 Pembimbing II

Drs. Rimba Hamid, M.Si                                                Damhuri, S.Pd., M.P
NIP. 19690801 199403 1 001                                        NIP. 19750716 200604 1 002

Mengetahui,
a.n Dekan FKIP
Ketua Jurusan Ilmu pendidikan


                           Drs. La Anse, S.Pd., M.Pd
                           NIP. 19561231 198503 1 019




HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan dan diterima oleh Panitia Ujian Skripsi pada Program Studi S1 PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo.
Hari/tanggal                : Kamis, 6 Oktober 2011
SK Dekan No             : 398/SK/H29.1/PP/2011
Panitia Ujian
Ketua/anggota             : Drs. Amiruddin B., M.Kes               (………………………)
Sekretaris/anggota       : Dra. Sitti Kasmiati, M.Si                  (………………………)
Anggota          :             1. Drs. Aceng Haetami, M.Pd          (………………………)
                                      2. Dra. Dorce B.P., M.Pd                 (………………………)
                                      3. Drs. Rimba Hamid, M.Si              (………………………)
                                      4. Damhuri, S.Pd., M.P                     (………………………)
                                                                                               
Kendari,     Oktober 2011
                                                                  Disahkan Oleh:
                                                                  Dekan FKIP Unhalu

                                                                             
                                                                             
                                                                  Dr. H. Barlian, M.Pd
                                                                  Nip. 19590927 198603 1 004


ABSTRAK
Fitriani (A1B4 08 151), ”Melalui Penerapan Metode Eksperimen Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Sifat-sifat Cahaya di Kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro Kabupaten Konawe Selatan”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya dapat ditingkatkan melalui penerapan metode eksperimen di kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro Kabupaten Konawe Selatan. Manfaat penelitian ini adalah: (1) bagi guru: dengan mengadakan penelitian tindakan kelas guru dapat mengetahui metode yang tepat sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas, agar permasalahan yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru dapat diminimalkan, (2) bagi siswa: dapat meningkatkan hasil belajarnya terhadap mata pelajaran IPA pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya, (3) bagi sekolah: penelitian tindakan kelas dapat memberikan masukan yang baik bagi sekolah untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran IPA. Berdasarkan hasil tes tindakan siklus I diperoleh bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terhadap materi pelajaran sebesar 71,87% atau sebanyak 23 siswa yang memperoleh nilai > 70 dengan nilai rata-rata 69,81 sedangkan hasil evaluasi tindakan siklus II diperoleh bahwa hasil belajar siswa secara klasikal  terhadap materi pelajaran sebesar 87,50% atau sebanyak 28 siswa yang memperoleh nilai > 70 dengan nilai rata-rata 73,81. Dari hasil observasi, evaluasi dan refleksi pada setiap siklus tindakan, maka dapat disimpulkan melalui melalui penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya siswa kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro.

Kata Kunci: Metode Eksperimen, Sifat-sifat Cahaya dan Hasil Belajar













KATA PENGANTAR

Segala puji  dan syukur peneliti panjatkan  ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayat yang diberikan kepada peneliti sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.
Peneliti menyadari bahwa seluruh rangkaian kegiatan penelitian mulai dari tahap penyusunan proposal hingga penyelesaian skripsi ini senantiasa mendapat bantuan dan petunjuk dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya  kepada Drs. Rimba Hamid, M.Si selaku pembimbing I dan Damhuri, S.Pd., M.P, selaku pembimbing II atas segala waktu yang diluangkan untuk membimbing dan memberikan arahan-arahan kepada peneliti hingga selesainya skripsi ini.
Ucapan terima kasih juga peneliti haturkan kepada berbagai pihak yang langsung maupun tidak langsung membantu peneliti terutama kepada:
1.      Prof. Dr. Ir. H. Usman Rianse, M.S. selaku Rektor Universitas Haluoleo.
2.      Dr. H. Barlian, M.Pd. selaku Dekan FKIP Universitas Haluoleo.
3.      Drs. La Anse, S.Pd., M.Pd selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan.
4.      Dra. Dorce Banne Pabunga, M.Pd selaku ketua Program Studi PGSD.
5.      Dosen serta staf administrasi dalam lingkungan FKIP Universitas Haluoleo.
6.      Dewan guru SD Negeri 2 Boro-boro yang turut membantu dalam pelaksanaan  penelitian ini.
7.      Sahabat-sahabatku: Sahriatin, Indrawati, Evayana, Dwisartika Saputri, Sarfaena, Lena Fatmawati dan Waode Sitti Arnis.
8.      Saudara-saudaraku: Sudarsi, SP., Sudarni A.Md.Pely., Sudarmin, A.MG., Hariati, Sudarno dan Salsa Shabila Lestari.
Terkhusus tulisan ini kupersembahkan sebagai tanda bukti kesyukuran kepada Allah Azza Wajalla dalam menuntut ilmu dan ungkapan rasa sayang yang tak terhingga kepada ayah dan bunda tercinta Sunusi Supu dan Sennang yang senantiasa memberikan inspirasi, semangat, motivasi dan do’anya yang begitu berarti dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas budi baik dari semua pihak yang telah turut membantu peneliti dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Kendari,   April 2011
Peneliti















Daftar isi

Halaman Judul ........................................................................................             i
Halaman peRSETUJUan .........................................................................            ii
Halaman PENGESAHAN..........................................................................           iii
ABSTRAK ........................................................................................................           iv
KATA PENGANTAR ......................................................................................            v
Daftar isi ....................................................................................................          vii

BAB I        Pendahuluan
A.    Latar Belakang ..........................................................................            1
B.     Rumusan Masalah ......................................................................            3
C.     Tujuan Penelitian   …….............................................................            4
D.    Manfaat Penelitian .....................................................................            4

BAB II      Kajian Pustaka
    1. Kajian Teori ...............................................................................            6
    2. Kajian Empiris............................................................................          20
    3. Kerangka Berpikir......................................................................          21
    4. Hipotesis Tindakan.....................................................................          22

bab iii     METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian...........................................................................          23
B.     Setting Penelitian .......................................................................          23
C.     Faktor yang di Teliti...................................................................          23
D.    Definisi Operasional dan Indikator Penilaian ............................          23
E.     Rencana Tindakan......................................................................          24
F.      Sumber, Jenis dan Teknik Pengambilan Data.............................          27
G.    Tehnik Analisis Data..................................................................          27
H.    Indikator Kinerja .......................................................................          28

bab iV     hASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Penelitian...........................................................................          29
B.  Pembahasan................................................................................          37

bab V      kesimpulan dan saran
A.  Kesimpulan.................................................................................          44
B.  Saran...........................................................................................          44

Daftar pustaka .......................................................................................          45

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat. Fenomena tersebut mengakibatkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, salah satu diantaranya bidang pendidikan. Untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas diperlukan adanya peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan adalah usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu meningkatkan prestasi dan kemampuan siswa agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, salah satunya adalah perbaikan proses pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran sebagai bagian dari proses pendidikan, sering mendapatkan beberapa masalah yang menjadi penghambat majunya pendidikan. Diantaranya adalah kurangnya motivasi belajar siswa, yang berakibat pada rendahnya hasil belajar, sehingga berakibat pada rendahnya mutu lulusan sekolah. Hal ini merupakan masalah yang harus dicarikan solusinya.
Pembelajaran di sekolah dasar, khususnya pada pembelajaran IPA, terkadang guru masih menemukan masalah yakni kurangnya minat siswa dalam mempelajarinya karena dalam pembelajaran IPA selama ini identik dengan pembelajaran yang didominasi kegiatan menghafal. SD Negeri 2 Boro-Boro sebagai salah satu SD Negeri yang ada di kecamatan Ranomeeto merupakan sekolah yang memiliki masalah dalam proses pembelajaran IPA selama ini, dimana dalam pembelajaran IPA, guru masih menerapkan pembelajaran konvensional. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mampu mengembangkan pemahaman IPA yang seharusnya mudah jika dalam pembelajaran menerapkan metode yang tepat, misalnya metode eksperimen. penerapan metode eksperimen mengharapkan siswa secara langsung aktif dalam kegiatan melihat fenomena-fenomena alam yang merupakan bagian dari IPA. Beberapa masalah pembelajaran di atas, mengakibatkan pembelajaran IPA kurang begitu menarik bagi siswa.
Berdasarkan data perolehan nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS) siswa kelas VI SD Negeri 2 Boro-Boro tiga tahun terakhir, mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang relatif rendah. Tahun ajaran 2006/2007 jumlah 25 siswa, 7 siswa memperoleh nilai ≥ 70 atau 28% yang tuntas belajar. Tahun ajaran 2007/2008 jumlah 30 siswa, 12 siswa memperoleh nilai ≥ 70 atau 40% yang tuntas belajar. Tahun ajaran 2008/2009, jumlah 25 siswa, 9 siswa memperoleh nilai ≥ 70 atau 36% yang tuntas belajar.
Begitu pula data hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya di kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro tahun ajaran 2010/2011 masih banyak siswa yang tidak mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM yang ditetapkan oleh pihak sekolah yaitu minimal 70% siswa memperoleh  nilai ≥ 70. Jumlah 32 siswa kelas V hanya 17 siswa yang memperoleh nilai ≥ 70, atau hanya 53,12% yang tuntas belajar, sedangkan 15 siswa lainnya atau 46,88% masih berada di bawah ketuntasan belajar, akibatnya mereka harus belajar remedial. Untuk mengatasi hal ini metode eksperimen perlu dicobakan dalam pembelajaran IPA karena dalam pelaksanaannya siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Pengalaman siswa ketika melakukan kegiatan eksperimen dapat menumbuhkan motivasi tersendiri untuk belajar lebih baik sehingga tujuan pembelajaran dan target KKM secara klasikal dapat tercapai.
Metode eksperimen sangat cocok diterapkan pada pembelajaran IPA khususnya pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya karena konsep pada pokok materi Sifat-sifat Cahaya berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-sehari sehingga untuk memahami konsep tersebut guru tidak cukup hanya dengan memberikan penjelasan langsung kepada siswa tetapi juga harus melalui praktek atau percobaan sendiri yang dilakukan oleh siswa sehingga siswa akan lebih memahami dan percaya atas kebenaran konsep atau kesimpulan setelah melakukan percobaan yang dilakukannya sendiri. Metode eksperimen dapat diartikan sebagai suatu metode pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan praktikum. Dengan penerapan metode pembelajaran tersebut diharapkan dapat memberikan nuansa baru dalam kinerja guru dalam mengoptimalkan aktivitas belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswanya.
Berdasarkan uraian tersebut penulis akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Melalui Penerapan Metode Eksperimen dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Sifat-sifat Cahaya di Kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro Kabupaten Konawe Selatan”.
B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya dapat ditingkatkan melalui penerapan metode eksperimen di kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro Kabupaten Konawe Selatan?
C.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya melalui penerapan metode eksperimen di kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro Kabupaten Konawe Selatan.
D.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1.    Bagi guru: dengan mengadakan penelitian tindakan kelas guru dapat mengetahui metode yang tepat sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas, agar permasalahan yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru dapat diminimalkan.
2.    Bagi siswa: dapat meningkatkan hasil belajarnya terhadap mata pelajaran IPA pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya.
3.       Bagi sekolah: penelitian tindakan kelas dapat memberikan masukan yang baik bagi sekolah untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran IPA.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.  Kajian Teori
1. Konsep Belajar dan Pembelajaran
Inti dari kegiatan pendidikan adalah suatu proses belajar, karena dengan belajar tujuan pendidikan akan tercapai. Oleh karena itu kegiatan belajar sangat penting karena berhasil tidaknya seseorang untuk menempuh pendidikan sangat ditentukan oleh baik tidaknya kegiatan belajarnya. Melalui proses belajar seseorang dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya maupun yang ada pada lingkungannya guna meningkatkan taraf  hidupnya.
Menurut Gredler dalam Angkowo (2007:47) belajar adalah suatu perubahan yang telatif dan permanen dari suatu kecenderungan. Hamalik (2003:27) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.  Belajar bukan hanya mengingatkan tetapi lebih luas dari itu yakni mengalami.
Menurut Winkel dalam Angkowo (2007:48) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap dan perubahan yang bersifat relatif konstan dan berbekas. Selanjutnya Slameto (2003: 2) menyebutkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.
Dari pengertian belajar di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya.
Teori Gagne menganggap belajar sebagai suatu proses yang memungkinkan seorang mengubah tingkah lakunya cukup tepat dan perubahan tersebut bersifat relatif sehingga perubahan yang serupa tidak perlu terjadi berulang kali setiap menghadapi situasi baru. Model belajar Gagne meliputi:
a.    Mengaktifkan motivasi.
b.    Memberi tahu pembelajaran tentang tujuan-tujuan belajar.
c.    Mengarahkan perhatian.
d.   Merangsang ingatan.
e.    Menyediakan bimbingan belajar.
f.     Membantu transfer belajar.
g.    Memperhatikan dan memberi umpan balik.
Dari uraian di atas maka pembelajaran IPA Kelas V SD dengan metode eksperimen sangat relevan. Melalui kegiatan eksperimen siswa dapat dilatih untuk melakukan kegiatan ilmiah dan berfikir ilmiah. Sebagai hasil belajar siswa tidak saja berupa pengetahuan tetapi juga dapat mengembangkan sikap ilmiah dan nilai ilmiah.
Konsep pembelajaran dalam dunia pendidikan dewasa ini terus berkembang seiring dengan tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Pemahaman istilah ”pembelajaran” tidak terbatas pada kegiatan guru mengajar atau membelajarkan siswa di kelas, tetapi telah digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang spesifik, misalnya pembelajaran berbasis kompetensi, pembelajaran kontekstual, pembelajaran terpadu, pembelajaran tematik, pembelajaran konvensional, pembelajaran kooperatif, dan sebagainya.
Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengmbangan dan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks, pembelajaran hakikatnya adalah  usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi  siswa  dengan  sumber  belajar  lainya)  dalam  rangka mencapai tujuan yang diharapkan (Trianto, 2009: 17).
Winkel dalam Slameto (2007: 50) mengatakan bahwa pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukukng proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam diri peserta didik. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara saksama dengan maksud agar terjadi belajar yang  berhasil guna. Pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya.
Menurut Soemosasmito dalam Trianto (2009: 20) suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektifan pengajaran, yaitu:
1)        Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM;
2)        Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa;
3)        Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan; dan
4)        Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas  yang mendukung butir (2), tanpa mengabaikan butir (4).
Dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana diantara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Hasil Belajar IPA di SD
Arifin (2003:13) menyatakan hasil belajar diartikan sebagai suatu tingkatan keberhasilan yang dicapai pada akhir suatu kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.  Selanjutnya Arikunto (2005:21) memberikan pengertian hasil belajar sebagai suatu hasil yang menggambarkan tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Menurut Sudjana (2000:40) hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Sedangkan Arikunto (2005:10) menyatakan tujuan pengukuran hasil belajar adalah sebagai berikut: (1) mengetahui tingkat penguasaan materi pelajaran yang dicapai oleh siswa dalam kurun waktu tertentu, (2) mengetahui posisi atau kedudukan siswa dalam kelompok kelasnya, dan tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar dan (3) mengetahui tingkat dan daya guna model mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar  mengajar.
Hasil belajar merupakan indikator dari perubahan yang terjadi pada individu setelah mengalami proses belajar-mengajar, dimana untuk mengungkapkannya biasanya menggunakan suatu alat penilaian yang dibuat oleh guru, seperti tes evaluasi.  Hal ini dimaksudkan untuk memahami dan mengerti pelajaran yang diberikan (Arifin:2003:47).
Sehubungan dengan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengukuran hasil belajar untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan mengetahui tingkat penguasaan materi pelajaran yang dikuasai siswa serta untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Hasil belajar keterampilan proses dilakukan dengan hasil belajar :
a.    Hasil belajar perbuatan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai beberapa keterampilan tertentu.
b.    Hasil belajar sikap dilakukan melalui pengamatan cara kerja anak, selama melakukan kegiatan dan menguji coba alat kerja.
c.    Hasil belajar hasil kerja anak lebih menekankan pada proses dan perilaku sikap teknologi bukan hanya menilai produk saja. (Depdikbud, 1999 : 109-110).
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar. Hasil belajar yang berkualitas dapat diketahui apabila dalam diri individu terjadi suatu perubahan perilaku ke arah yang lebih baik atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Menurut Ahiri (2008:2-5) hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar yaitu : (a). Keterampilan dan kebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian; (c). Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah, Sedangkan menurut Reigeluth dalam Ahiri, (2008:4) mengatakan bahwa hasil belajar dapat diukur dari tinggi rendahnya kemampuan belajar seseorang yang ditunjukkan oleh adanya perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman.
Bloom dalam Ahiri, (2008:5-7) mengelompokkan hasil belajar atas 3 aspek, yaitu:
a.              Aspek kognitif berhubungan dengan perubahan pengetahuan.
b.             Aspek afektif berhubungan dengan perkembangan atau perubahan sikap.
c.              Aspek psikomotor berhubungan dengan penguasaan keterampilan motorik.
Aspek kognitif memfokuskan pada kemampuan berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah, pada aspek afektif berkaitan dengan nilai dan sikap, minat dan apresiasi. Sedangkan aspek psikomotor berkaitan dengan belajar yang dimiliki siswa meliputi cara-cara yang berkaitan dengan  mengikuti mata pelajaran, mengerjakan tugas, membaca buku, belajar kelompok, mempersiapkan ujian, menindak lanjuti hasil ujian, mencari sumber belajar, kondisi pribadi siswa yang meliputi kesehatan, kecerdasan, sikap, dan cita-cita.
Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu :
1.      Faktor internal (dari dalam individu yang belajar).  
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu: motivasi,   perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
2.      Faktor eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap (Angkowo, 2007 : 51).
Hasil belajar IPA siswa merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri siswa setelah melakukan suatu proses belajar IPA Berdasarkan hasil belajar yang dilaksanakan guru di sekolah, maka hasil belajar IPA siswa dituangkan atau diwujudkan dalam bentuk angka (kuantitatif) dan pernyataan verbal (kualitatif). Hasil belajar yang dituangkan dalam bentuk angka misalnya 10, 9, 8, dan seterusnya. Sedangkan hasil belajar yang dituangkan dalam bentuk pernyataan verbal misalnya, baik sekali, baik, sedang, kurang, dan sebagainya (Djuwairiyah, 2007:16).
3.  Konsep Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD
Dorongan ingin tahu telah terbentuk secara kodrati mendorong manusia mengagumi dan mempercayai adanya keterampilan pada alam. Hal ini mendorong munculnya sekelompok orang berfikir. Pemikiran dilakukan secara terpola sehingga dipahami oleh orang lain. Dorongan ingin tahu meningkat untuk mencari kepuasan dan penggunaannya. Penemuan yang dapat diuji kebenarannya oleh orang lain dapat diterima secara universal. Dengan demikian dari pengetahuan akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan. Perolehan yang didapat melalui percobaan, didukung oleh fakta menggunakan metode berfikir secara sistematis dapat diterima sebagai ilmu pengetahuan yang selanjutnya disebut produk, sedangkan langkah-langkah dilakukan merupakan suatu proses. Langkah-langkah atau proses ditempuh dalam mengembangkan ilmu menjadi cara atau metode memungkinkan berkembangnya pengetahuan. Ada hubungan antara fakta dan gagasan. Pola memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah dianut orang secara umum. Orang yang terbiasa menggunakan metode ilmiah berarti mempunyai sikap ilmiah.
Mata pelajaran IPA berfungsi untuk :
a.       Memberi pengetahuan tentang berbagai jenis dan lingkungan alam dan lingkungan dalam kaitan dengan manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.
b.       Mengembangkan keterampilan proses.
c.       Mengembangkan wawasan sikap dan nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
d.      Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi.
e.       Mengembangkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (Depdikbud, 1997 : 87).
Hal yang penting diperhatikan guru dalam pembelajaran IPA adalah berusaha agar siswa ikut aktif dalam proses pembelajaran. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat dipandang sebagai produk dan sebagai proses. Secara definisi, IPA sebagai produk adalah hasil temuan-temuan para ahli saintis, berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori-teori. Sedangkan IPA sebagai proses adalah strategi atau cara yang dilakukan para ahli saintis dalam menemukan berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya temuan-temuan tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa alam. IPA sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakekatnya IPA sebagai proses. Siswa SD yang secara umum berusia 6-12 tahun, secara perkembangan kognitif termasuk dalam tahapan perkembangan operasional konkrit. Tahapan ini ditandai dengan cara berpikir yang cenderung konkrit/nyata. Siswa mulai mampu berpikir logis yang elementer, misalnya mengelompokkan, merangkaikan sederetan objek, dan menghubungkan satu dengan yang lain. Konsep reversibilitas mulai berkembang. Pada mulanya bilangan, kemudian panjang, luas, dan volume. Siswa masih berpikir tahap demi tahap tetapi belum dihubungkan satu dengan yang lain.
Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam pembelajaran IPA di SD yang perlu diajarkan adalah produk dan proses IPA karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Guru yang berperan sebagai fasilitator siswa dalam belajar produk dan proses IPA harus dapat mengemas pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Ada beberapa prinsip pembelajaran IPA untuk SD yang harus diperhatikan oleh guru. Prinsip tersebut antara lain: Pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita di mulai melalui pengalaman baik secara indrawi maupun non indrawi.
Pengetahuan yang diperoleh tidak pernah terlihat secara langsung, karena itu perlu diungkap selama proses pembelajaran. Pengetahuan siswa yang diperoleh dari pengalaman itu perlu diungkap di setiap awal pembelajaran. Setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang, dan relasi dengan konsep yang lain.
Tugas sebagai guru IPA adalah mengajak siswa untuk mengelompokkan pengetahuan yang sedang dipelajari itu ke dalam fakta, data, konsep, simbol, dan hubungan dengan konsep yang lain. IPA terdiri atas produk dan proses. Guru perlu mengenalkan kedua aspek ini walaupun hingga kini masih banyak guru yang lebih senang menekankan pada produk IPA saja. Perlu diingat bahwa perkembangan IPA sangat pesat. Guru yang akan mengembangkan IPA sebagai proses, maka akan memasuki bidang yang disebut prosedur ilmiah. Guru perlu mengenalkan cara-cara mengumpulkan data, cara menyajikan data, cara mengolah data, serta cara-cara menarik kesimpulan.

4. Penerapan Metode Eksperimen dalam Pembelajaran IPA
Keberhasilan proses pembelajaran tergantung pada banyak faktor, salah satunya adalah metode mengajar yang dilakukan oleh guru. Guru yang mengajar dengan metode yang tepat akan membuat siswa senang, tekun, antusias, dan mudah memahami materi pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Ada berbagai macam metode mengajar yang dapat dilakukan oleh guru antara lain metode ceramah, diskusi, tanya jawab, brainstorming, eksperimen, resitasi, demonstrasi, bermain peran, kerja kelompok, dan karya wisata (media.diknas.go.id)
Salah satu metode mengajar yang penting dan erat kaitannya dengan pembelajaran IPA adalah metode eksperimen. Metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar di mana guru bersama siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dari hasil percobaan itu. Misalnya, ingin memperoleh jawaban tentang kebenaran sesuatu, mencari cara-cara yang lebih baik, mengetahui elemen/unsur-unsur apakah yang ada pada suatu benda, ingin mengetahui apakah yang akan terjadi, dan sebagainya. Metode eksperimen atau percobaan dapat diartikan juga sebagai suatu metode pemberian kesempatan kepada siswa perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan (Adrian, 2004:8).
Setiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Suatu metode baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi tidak tepat untuk situasi yang lain. Suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, belum tentu berhasil dibawakan oleh guru lain. Metode eksperimen pun mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan metode eksperimen:
1.        Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau membaca buku.
2.        Siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
3.        Metode ini dapat menumbuhkan dan membina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan hasil percobaan yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kekurangan Metode Eksperimen
1.      Membutuhkan peralatan yang sulit didapat sehingga tidak semua siswa berkesempatan melakukan percobaan.
2.      Eksperimen yang memerlukan waktu yang lama akan membutuhkan waktu pembelajaran yang lama pula.
3.      Metode eksperimen lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi (Syaiful, 2000:196).
Eksperimen adalah bagian yang sulit dipisahkan dari ilmu pengetahuan alam, dapat dilakukan di laboratorium maupun di alam terbuka. Metode ini mempunyai arti penting karena memberi pengalaman praktis yang dapat membentuk persamaan dan kemauan anak. Hal-hal yang diperhatikan dalam eksperimen adalah melakukan hal-hal praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari, member pengertian sejelas-jelasnya tentang landasan teori yang akan dieksperimenkan.
Hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam menerapkan metode eksperimen antara lain: guru harus melatih untuk melaksanakan metode ilmiah, perlu perencanaan yang matang sebelum melakukan eksperimen, memerlukan peralatan yang harus dipersiapkan terlebih dahulu, eksperimen menjadi gagal apabila kondisi peralatan tidak cocok sehingga kesimpulan salah.
Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen adalah:
a.    Menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran.
b.    Memberikan apersepsi.
c.    Memotivasi siswa.
d.   Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam eksperimen
e.    Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok.
f.     Guru menjelaskan materi yang akan dieksperimenkan.
g.    Guru membagikan LKS yang telah disiapkan pada setiap kelompok.
h.    Siswa dengan bimbingan guru melaksanakan eksperimen berdasarkan panduan dalam LKS yang telah dibagikan.
i.      Pelaporan hasil eksperimen dan beberapa perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil eksperimennya serta kelompok lain memberikan tanggapan.
j.      Siswa diberikan kesempatan oleh guru untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.
k.    Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi pelajaran.
Menurut Sulamah (2003:23) proses pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen dapat meningkatkan keterampilan proses. Juga meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa, Ilmu Pengetahuan Alam dapat berkembang pesat berkat metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA menurut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Dengan metode eksperimen dalam proses pembelajaran dapat melatih siswa mengembangkan keterampilan intelektualnya. Diharapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran IPA akan dapat meningkatkan presentasi belajar dan semangat belajar secara aktif pada siswa
5. Konsep Pembelajaran Pokok Bahasan Cahaya dan Sifat-Sifatnya.
Cahaya didefinisikan sebagai radiasi yang dapat mempengaruhi mata dan memiliki kecepatan sebesar 299,792,458 meter per sekon. Cahaya merupakan energi terbentuk gelombang dan membantu kita untuk melihat. Salah satu sifat cahaya adalah bergerak lurus ke semua arah. Hal ini dapat dibuktikan dari berkas cahaya lampu senter, yang tampak sebagai berkas lurus, sumber cahaya titik menghasilkan bayang-bayang di belakang benda tak tembus cahaya (digunakan untuk menjelaskan peristiwa gerhana bulan dan gerhana matahari). Posisi benda disekitar kita di simpulkan dengan menganggap bahwa cahaya bergerak dari benda ke mata melalui lintasa lurus (Sumardi, 2009: 103).
Penalaran yang masuk akal tersebut membawa kita pada model sinar cahaya. Model ini menganggap bahwa cahaya merambat melalui lintasan garis lurus yang disebut sinar cahaya. Menurut Giancoli dalam Sumardi (2009: 104) sinar merupakan suatu idealisasi, yang dipakai untuk menggambarkan berkas cahaya yang sangat sempit. Menurut model ini, ketika kita melihat sebuah benda, cahaya dari setiap titik pada benda itu mencapai mata kita meskipun sinar-sinar cahaya meninggalkan setip titik pada benda dalam berbagai arah, bisanya hanya seberkas kecil cahaya yang masuk ke mata.
Bila seberkas cahaya menumbuk permukaan suatu benda maka cahaya tersebut dipantulkan. Sisanya diserap oleh benda tersebut dan diubah menjadi energi panas atau jika benda itu transparan seperti kaca atau air, sebagian cahaya diteruskan melalui benda tersebut. Untuk benda-benda yang berkilau seperti cermin, lebih dari 95% cahaya tersebut dipantulkan (Sumardi, 2009: 105).
Ketika sebuah berkas cahaya mengenai sebuah permukaan bidang batas yang memisahkan dua medium berbeda, seperti sebuah permukaan kaca, energi cahaya tersebut dipantulkan dan memasuki medium kedua, perubahan arah dari sinar yang ditransmisikan tersebut disebut pembiasan.
B.       Kajian Empiris
1.    Irbawati (2009) menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa melalui penerapan metode eksperimen pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan alam (IPA) pada materi pokok energi panas di SD Negeri 1 Besulutu Kab. Konawe dapat ditingkatkan.
2.    Syafrudin (2009) menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada IPA siswa kelas V SD Negeri 1 Wolulu Kabupaten Kolaka dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode eksperimen.
3.    Sumarlin (2010) menyimpulkan bahwa melalui metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SD Negerei 1 Molawe Konawe Utara.
C.      Kerangka Berpikir
Upaya untuk melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara salah satunya adalah dengan perbaikan metode pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajarkan. Penggunaan metode pembelajaran tidak harus sama untuk semua bidang studi, sebab dapat terjadi metode pembelajaran tertentu tidak cocok untuk mata pelajaran yang lain.
Dalam proses pembelajaran IPA, guru diharapkan mampu menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Metode eksperimen merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada siswa perorangan atau kelompok, untuk melatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini siswa diharapkan sepenuhnya merencanakan, melakukan eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata. Oleh karena itu, dengan menggunakan metode eksperimen dalam proses pembelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
D.      Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya dapat ditingkatkan melalui penerapan metode eksperimen di kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro Kabupaten Konawe Selatan.


BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas, yaitu penelitian yang berusaha mengkaji masalah-masalah tertentu dan berusaha untuk mengatasi dengan implementasi tindakan yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
B.     Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 di kelas V SD Negeri 2 Boro-Boro dengan jumlah 32 siswa yang terdiri dari 17 laki-laki dan 15 perempuan. 
C.    Faktor yang Diteliti
Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Faktor siswa: untuk melihat hasil belajar siswa dalam mempelajari IPA khususnya pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya.
2.         Faktor guru: untuk melihat bagaimana teknik guru dalam penggunaan metode eksperimen.
D.    Definisi Operasional dan Indikator Penilaian
1.      Definisi Operasional
a)      Metode eksperimen adalah suatu metode pemberian kesempatan kepada siswa perorangan atau kelompok untuk berlatih melakukan suatu proses atau percobaan.
b)      Hasil belajar IPA adalah hasil belajar siswa yang diperoleh setelah diberikan tes siklus I dan tes siklus II pada pembelajaran metode eksperimen
2.      Indikator Penilaian
a)         Penilaian aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran metode eksperimen dibuat dalam bentuk lembar observasi guru dan siswa.
b)        Penilaian hasil belajar siswa dibuat dalam bentuk tes tertulis uraian.
E.     Rencana Tindakan
Penelitian tindakan ini direncanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Adapun langkah-langkah pada siklus penelitian ini adalah:
                  
Evaluasi
Analisis Data I
Pelaksanaan
Tindakan II
/Observasi
Evaluasi
S
I
K
L
U
S
II

Alternatif Pemecahan
(Rencana Tindakan II)
Siklus
selanjutnya
Belum Terselesaikan
Refleksi I
Belum terselesaikan
Terselesaikan
Analisis Data II
Pelaksanaan
Tindakan I /Observasi
Alternatif Pemecahan
(Rencana Tindakan I)
S
I
K
L
U
S

I


Terselesaikan
Refleksi II
Permasalahan











(Tim Proyek PGSM, 1999:27)

Keterangan:
          Adapun prosedur penelitian tindakan  ini meliputi:
1.    Perencanaan
2.    Pelaksanaan Tindakan
3.    Observasi dan Evaluasi
4.    Refleksi dalam setiap siklus
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut:
a)   Pada siklus I kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1)   Perencanaan; kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu:
a)    Membuat skenario pembelajaran berupa rancangan perbaikan pembelajaran (RPP).
b)   Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas ketika penerapan metode eksperimen.
c)    Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) untuk siklus I
d)   Menyiapkan alat bantu mengajar yang diperlukan dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep IPA khususnya pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya dengan baik.
e)    Mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi IPA khususnya pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya telah dikuasai siswa.
f)    Menyiapkan jurnal.
2)   Pelaksanaan tindakan; kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat.
3)   Observasi dan evaluasi; pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dan melakukan evaluasi.
4)   Refleksi; hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
b)   Pada siklus II kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1)   Perencanaan; kegiatan pada tahap ini meliputi:
a.    Menetapkan, merumuskan kenggulan dan kelemahan yang ditemukan pada siklus I.
b.    Meninjau kembali skenario pembelajaran berupa rencana perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus II.
c.    Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) untuk siklus II.
d.   Menyusun alat evaluasi berupa tes hasil belajar, lembar observasi aktivitas siswa pada proses pembelajaran dan lembar observasi kemampuan pengelolaan pengajaran guru dalam menerapkan metode eksperimen.
2)      Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dibuat.


3)        Observasi dan evaluasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dan melakukan evaluasi.  
4)        Refleksi
Hasil yang diperoleh dari tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini untuk mengetahui apakah kegiatan yang telah direncanakan telah terlaksana dengan baik. Selain itu, kegiatan refleksi ini juga bertujuan untuk menganalisis data pada akhir siklus.
F.     Sumber, Jenis dan Teknik Pengambilan Data
1.    Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru.
2.    Jenis data: jenis data yang didapatkan adalah data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi dan data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar.
3.    Teknik Pengambilan Data
a)    Data mengenai aktivitas siswa dan guru diambil dengan menggunakan lembar observasi.
b)   Data mengenai hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.
G.    Teknik Analisis Data
Adapun langkah dalam menganalisa hasil belajar siswa sebagai berikut:
a.    Membuat tabulasi data.
b.    Menentukan hasil belajar siswa dengan rumus: 
                
c.         Menentukan nilai minimum dan nilai maksimum.
d.        Menentukan nilai rata-rata hasil belajar menggunakan rumus:
Nilai rata-rata (Sudjana, 2000: 172).      
Sedangkan data hasil pengamatan aktivitas guru dan siswa melalui lembar observasi diolah secara manual kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel  persentase.
            Persentase ketuntasan x 100%
H. Indikator Kinerja
Keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari dua segi yaitu sebagai berikut:
1.      Indikator proses: yaitu meningkatnya aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran dengan indikator keberhasilan ≥ 85%.
2.      Indikator hasil belajar: yaitu meningkatnya hasil belajar siswa pada materi pokok Sifat-sifat Cahaya dengan indikator keberhasilan yaitu minimal 75% siswa telah memenuhi nilai ≥ 70. Hal ini merupakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh SD Negeri 2 Boro-boro.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts